Selasa, 05 Maret 2019

CERITA MELAHIRKAN SECARA NORMAL DENGAN INDUKSI

     

CERITA LAHIRAN PART 1 


  Halo pembaca dunia maya...khususnya bagi ibu ibu dan calon ibu yang mau melahirkan..kali ini saya mau bercerita tentang proses melahirkan putri pertama saya yang saya beri nama Pratista. untuk cerita ini agak panjang y dan yang pasti melelahkan jadi yang gak suka boleh skip koq, dipersilahkan.

    Here we go...Saat itu tanggal 16 januari 2017 malam hari sekitar jam 8 malam saat itu suami saya sedang bekerja.saya sendiri di rumah karena memang saya hanya tinggal berdua, kami jauh dari orang tua dan keluarga sehingga sudah terbiasa hidup mandiri maklum anak rantau, heheheh. tiba tiba saat mau sholat isya saya merasa seperti ada air yang merembes seperti mau pipis tapi gak bisa ditahan, keluar aja gitu terus lama lama rok yang saya pakai itu basah bahkan saya coba tiduran di kasur koq kasur saya malah basah semua, ahirnya saya telepon suami saya kasih tau keadaan saya, kemudian jam 10 malam suami pulang kerja dan kita langsung ke UGD RS disana langsung dicek dan ternyata sudah pembukaan 1 dan gak ada kontraksi sama sekali.kemudian saya disarankan sesar oleh salah satu dokter kandungan karena dengan alasan ketuban sudah pecah dan tidak ada kontraksi karena saya ngeyel dan memnag takut dioperasi ahirnya saya ngotot dengan dokter mau lahiran normal. Dan dokter menyetujui dengan memberitahukan suster untuk memberikan induksi berupa obat yang di masukan ke vagina, awalnya saya malu malu dan risih saat bidan memasukan tangan nya  lama lama saat kontrasksi mulai terasa seketika rasa malu saya mulai hilang.dan hasilnya diliat pada jam 6 pagi jika tidak aada pembukaan maka harus disesar dengan terpaksa.

Dan Alhamdulilah saat jam 6 pagi dicek ternyata saya ada pembukaan,sehingga jam 6 saya dipindahkan ke ruang bersalin, ketika pembukaan bertambah sakitnya ampun ampun melebihi sakit saat haid berpuluh puluh kali lipat.kebetulan ketika haid memang saya sering sakit perut dan yang ini saya bener2 gk kuat sampai suami saya menjadi korban cakaran dan jambakan saya karena saking sakitnya, untung ny suami saya sabar dan terus berusaha menguatkan saya agar tidak berteriak teriak terus.saya hanya bisa tiduran di kasur karena memang dilarang untuk berjalan jalan bahkan ssaat pipis pun saya harus menggunakan pispot khusus wanita( saya lupa namany apa) heheh.saat pembuakaan 9 saya merasa seperti mau BAB tapi saya berusaha mengejan tetapi gak kunjung keluar sepertinya itu kepala bayi yang mulai berusaha keluar, dari awal sampai ahir saya hanya di temani oleh suami karena ibu saya belum datang karena masih diluar kota. hingga ahirnya jam 1 siang setelah kurang lebih 17 jam saya mengalami kontraksi yang hebat ahirnya lahirlah putri pertama kami dengan keadaan yang setengah biru karena kekurangan oksigen akibat ketuban yang sudah habis. Saat itu vagina saya juga digunting hingga dibantu oleh 5 orang suster dan suami memegang kepala saya karena sudah gak sanggup mengejan. berat lahirnya 2.9 kg dengan panjang 46 cm. tidak tahu berapa banyak jahitan saya terima yang jelas mah diobras luar dalam. 

setelah lahir pratista diambil dan digunting ari2 dan kemudian langsung di  bawa ke ruang perawatan dan dimasukan box bayi dengan infus dan diobservasi hingga 3 hari, tidakboleh di bawa pulang karena masih disuntik antibiotik dan tempatnya pun terpisah degan ruang perwatan saya.setelah 2 hari saya diperbolehkan pulang tapi pratista belom hingga ahirnya saya masih harus berada di rumah sakit untuk menunggu dia dirawat dengan keadaan yang tertatih tatih dan belum pulih saya harus menyusui asi yang saat itu belum bisa keluar dengn lancar, muncullah drama2 baru lainnya.. Buat para ibu dan calon ibu tetap semangat dalam menyongsong persalinan, agar dilancarkan baik sesar maupun normal. perbanyaklah berdoa dan memang tiada kekuatan yang dapat menandingi kuasaNYA.

kyaknya cerita ini masih harus bersambung karena masih panjang,,jadi tunggu cerita selanjutnya ya..
surga berada di telapak kaki ibu, maka saya menyesal pernah berbuat salah kepada ibu saya sekarang jadilah manusia yang terus berubah ke arah yang lebih baik, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.